Kamis, 06 Oktober 2011

Maathai: Pemberontak Ramah Lingkungan


Kita harus melakukan semua upaya untuk melindungi lingkungan. Jika kita tidak melakukannya, berarti kita membiarkan generasi mendatang menderita dan  mati,“ ujar Maathai suatu saat di masa hidupnya

Maathai adalah seorang perempuan kelahiran Kenya. Pada masa hidupnya, ia aktif dalam memperjuangkan kelestarian lingkungan, hak-hak wanita dan kehidupan politik yang bebas dari korupsi di Kenya, Afrika. Atas tindakannya yang bisa dibilang “memberontak” terhadap rezim korup pemerintahan yang berkuasa, tak jarang dalam kehidupan sehari-harinya Maathai mendapatkan ancaman kematian

gerakan sabuk hijau: tugu pohon perdamaian

Bagi Maathai, ancaman tidak pernah menyurutkan langkah dalam mewujudkan cita-citanya yaitu memajukan kehidupan para wanita di Kenya. Melalui “Green Belt Movement” sebuah organisasi lingkungan non-pemerintah yang didirikannya, perempuan bernama lengkap Wangari Muta Mary Jo Maathai berusaha untuk membebaskan perempuan Kenya dengan cara melestarikan hutan. Ia melihat bahwa ada keterkaitan erat antara kehidupan perempuan dengan lingkungan hidup di Kenya. 


Maka tak heran, sebagian besar anggota dari Green Belt Movement berasal dari kalangan perempuan. Bersama para perempuan di Kenya, Maathai memprakarsai penanaman lebih dari 40 juta pohon untuk menghijaukan kembali di Afrika

Gerakan menanam dan melindungi pohon ini bisa dikatakan berhasil. Tidak hanya di Kenya, melainkan negara di sekeliling Kenya juga ikut mengadopsi langkah Maathai. Perempuan yang lahir pada 1 April 1940 silam ini menggagas mengembangkan metode konservasi lingkungan berbasis komunitas.  Pada tahun 2004, maathai diberikan anugrah Nobel Perdamaian untuk kontribusinya dalam pembangunan berkelanjutan, demokrasi dan perdamaian.

Atas keberhasilannya melestarikan hutan di Kenya dan Afrika, Warga Kenya menjuluki Maathai sebagai Mama Miti atau “Ibu Pepohonan“. Namun, Maathai belum bisa melihat cucunya dewasa untuk menikmati segarnya pepohonan yang dilindungi kaum perempuan Kenya, karena pada  25 September 2011 ia menghembuskan nafas terakhirnya pada usia ke 71 tahun. Ia meninggal karena Kanker yang telah dideritanya selama beberapa tahun terakhir. Ia telah meninggalkan kita dan masyarakat dunia, tetapi pemberontakan terhadap kemiskinan dan perusakan lingkungan sangat pantas menjadi inspirasi hidup kita. Adios Amigos Maathai!

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | fantastic sams coupons